Jaringan Masyarakat Sipil (JMS) Lombok, JARPPUK Rindang dan Perkumpulan Panca Karsa bekerja sama dengan Pemerintah Lombok Tengah dan Pengadilan Agama Lombok Tengah berhasil melakukan isbat nikah secara keliling di 11 desa se Kabupaten Lombok Tengah dengan jumlah peserta isbat nikah sebanyak 933 pasangan telah dikabulkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama Lombok Tengah.

Wajah bahagia dengan penuh semangat, masyarakat berbondong-bondong menghadiri sidang isbat nikah yang diselenggarakan di kantor desa masing-masing, bahkan rela meninggalkan pekerjaan yang setiap hari mereka tekuni. “Kami cukup senang dan merasa lega dengan adanya program isbat nikah ini”. Ucap salah seorang peserta isbat nikah yang berprofesi sebagai buruh tani yang berhasil di wawancarai oleh anggota JMS Lombok di depan kantor Desa Tanaq Awu pada tanggal 29 Desember 2015. Ina Khaidir (50 tahun) yang berasal dari desa Tanaq Awu Kecamatan Pujut Lombok Tengah menambahkan “Selama ini kami mengalami beberapa kesulitan untuk mengurus akte kelahiran anak karena tidak memiliki buku nikah, begitupun jikalau kami berkeinginan mencari nafkah di negeri seberang”. Jadi program isbat nikah sangat membantu kami yang kurang mampu. tegasnya.

Pernyataan yang sama juga di sampaikan oleh peserta isbat nikah dari Desa Selebung Kecamatan Batukliang Lombok Tengah. Bapak Najamudin mengatakan “Cita-cita besar kami adalah naik haji ke tanah suci mekah, namun harapan itu putus di tengah jalan akibat tidak memiliki buku nikah, lagi pula kami tidak memahami cara mengurusnya. Suami Ibu Maina ini menyampaikan ucapan terima kasih atas diselenggarakannya program isbat nikah, sehingga kami bisa mendapatkan buku nikah dan cita-cita untuk pergi naik haji yang terpendam selama ini, akhirnya muncul kembali”.terangnya.

Selama JMS Lombok menjalankan tahapan persiapan program isbat nikah di Lombok Tengah, ada beberapa hal yang ditemukan untuk diceritakan kepada para pembaca, di antaranya yaitu  : Pertama; ketika kami melakukan verifikasi data peserta isbat nikah, kami menemukan nama peserta isbat nikah yang berbeda antara nama di ijazah dengan KTP maupun KK. Kami penasaran dengan hal tersebut dan pikiranpun melayang-layang, Kenapa nama-nama tersebut bisa berbeda? Setelah kami telusuri di beberapa peserta isbat nikah dan tokoh masyarakat di desa wilayah isbat nikah. Menurut hasil yang kami rangkum, perbedaan nama tersebut disebabkan oleh kebiasaan masyarakat memanggil seseorang sesuai dengan nama anaknya. Misal; nama anaknya Ali sementara nama bapaknya Budiman, maka bapaknya tersebut akan dipanggil oleh masyarakat disekitarnya dengan Amaq Ali. Akhirnya nama tersebut, dicantumkan pula dalam KTP maupu KK tanpa mengacu pada nama yang ada dalam ijazah.

Kedua; JMS Lombok juga menemukan beberapa pasangan poligami yang tidak memiliki buku nikah. Ketidak pemilikan buku nikah bagi pasangan poligami ini disebabkan oleh kebudayaan nikah – cerai yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat Lombok. Dimana kebudayaan masyarakat Lombok cenderung mengedepankan hukum adat dan agama, sementara hukum negara diabaikan.

Ketiga; Dalam pikiran kita tentu warga yang tidak memiliki buku nikah adalah hanya orang-orang biasa saja dengan kategori ekonomi lemah, kurang pemahaman, poligami maupun janda. Tetapi yang ini berbeda seperti yang dibayangkan, kami menemukan juga ada sebagian aparatur pemerintah desa seperti RT, Kadus, staf desa bahkan kepala desa juga tidak memiliki buku nikah. Sebelumnya, mereka sempat mengajukan permohonan melalui program isbat nikah secara gratis ini. Namun, JMS Lombok menanggapi keinginan mereka dengan menyarankan agar melakukan isbat nikah secara mandiri ke pengadilan agama, sebab program ini hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin.

Itulah beberapa cerita dibalik isbat nikah di Kabupaten Lombok Tengah pada tahun 2015 yang dapat kami sajikan. Cerita ini dirangkum oleh JMS Lombok melalui kegiatan-kegiatan sosialisasi dan verifikasi data. Namun, JMS Lombok menyadari bahwa cerita ini baru sebagian kecil, mungkin saja masih banyak cerita-cerita lain yang bermanfaat sebagai referensi bersama menuju masyarakat yang tertib administrasi kependudukan.