Berbagi Informasi, Belajar Bersama, dan Advokasi

Belajar Membangun Desa Bersama Desa Dlingo Daerah Istimewa Yogyakarta

Desa yang awalnya mati suri, kini telah menjadi desa yang paling aktif se tanah Yogyakarta. Dari jam 07.30 sampai jam 15.00 wita, pemerintah desa menerima pelayanan kepada warganya, Informasi publik telah diterapkan dalam aplikasi sistem informasi desa sebagai alat untuk memberikan informasi dan mempermudah pelayanan kepada warganya, perpustakaan desanya sangat memadai dan ramai dikunjungi oleh anak-anak usia sekolah, pemuda dan masyarakat umum. Di halaman kantor desanya telah disediakan lapak penjualan produk-produk ekonomi kreatif masyarakatnya. Itulah kondisi Desa Dlingo Kecamatan Dlingo Daerah Istimewah Yogyakarta yang dipimpin oleh Bapak Badrun yang berhasil menciptakan desanya sebagai tempat belajar, berkreasi, berkumpul bagi warganya.

Peran pemerintah desa sangat aktif mengupdate perkembangan masyarakat desa dengan rutin melakukan blusukan untuk mengetahui kondisi warganya. Begitu pula dengan BPD, setiap dusun mereka membagi diri untuk ikut melakukan Musdus setiap bulan dan memberikan report kepada Pemerintah Desa tentang apa saja aspirasi warga di tingkat dusun. Hal ini dilakukan untuk menjalankan fungsi pengawasan dan pengontrolan terhadap implementasi kebijakan pembangunan desa yang sudah maupun yang akan dilaksanakan. Dengan begitu, pemerintah desa dapat merumuskan kebijakan pembangunan desa yang benar-benar aspiratif.

Pemerintah Desa Dlingo sadar bahwa kapasitas yang dimiliki oleh pemuda cukup berpotensi dalam membangun desa. Pemuda-pemuda desa lulusan SMA/SMK sederajat, Strata 1 yang memiliki keahlian di bidang IT diorganisir untuk mengelola aplikasi SID secara berkala.

Keuletan pemerintah desa ini membuat Desa Dlingo selalu ramai dikunjungi oleh desa-desa lain untuk belajar, tanpa terkecuali rombongan Program Desa yang terdiri dari JMS Lombok NTB, Konsorsium Tabanan Bali dan Konsorsium Bogor Jawa Barat juga sangat antusias untuk melihat langsung kemajuan desa Dlingo pada tanggal 30 Agustus 2016. Dari kunjungan ini, ada banyak pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam mengimplementasikan Program Desa ke depan tanpa mengesampingkan aspek kekhususan setiap daerah.