Berbagi Informasi, Belajar Bersama, dan Advokasi

Isbat Nikah

Isbat Nikah

 Latar Belakang

Banyak penduduk di Pulau Lombok belum mempunyai buku nikah, walaupun sudah menikah secara agama. Walaupun belum ada data yang jelas, diperkirakan di Kabupaten Lombok Barat saja ada sebanyak 170.000 pasangan suami istri yang belum mempunyai buku nikah.

Karena tidak memiliki buku nikah, penduduk tersebut, terutama di kalangan warga miskin, dirugikan karena tidak dapat mengakses layanan pemerintah/formal seperti:

  • membuat akte kelahiran anaknya, sehingga tidak bisa mendaftarkan anaknya ke sekolah
  • mendaftar pada BPJS Kesehatan
  • mengakses program-program kemiskinan yang disediakan pemerintah
  • mendaftar sebagai calon haji
  • dll

Selain kerugian secara formal tersebut, tidak memiliki buku nikah meyebabkan juga tingginya angka perceraian, di mana perceraian juga tidak dilakukan di Pengadilan Agama sehingga pengabaian terhadap hak anak pun terjadi.

Tidak adanya buku nikah tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

  • selama ini, kehidupan sehari-hari penduduk tidak memerlukan surat tersebut dan tidak dianggap penting
  • penduduk tidak memiliki surat resmi lainnya seperti KTP dan Kartu Keluarga yang menjadi prasyarat pembuatan buku nikah
  • banyaknya pihak yang terkait dalam persyaratan pembuatan buku nikah
  • sulitnya proses, sedangkan penduduk tidak terbiasa menelusuri proses administrasi formal yang tampaknya kompleks dan berbelit-belit
  • belum terkoordinasinya instansi pemerintah yang berhubungan dengan pernikahan

Untuk memberdayakan masyarakat yang dirugikan tersebut, penduduk perlu didampingi untuk mengikuti sidang isbat nikah dan melakukan pencatatan nikah.

Dalam praktenya, kegiatan pendampingan selama ini hanya bisa memproses sekitar 1.000  – 1.700 pasangan per tahun, yang merupakan bagian kecil dari penduduk yang memerlukan bantuan. Karena itu, diperkirakan kegiatan pendampingan isbat nikah masih akan berlanjut di Lombok Barat dan kabupaten lainnya di Lombok untuk beberapa waktu lagi.

Peran JMS Lombok

JMS Lombok berperan dalam pertama kalinya mengungkap pentingnya dilakukannya pendampingan masyarakat untuk mengurus buku nikah. Dalam kegiatan posko pengaduan di acara Penerimaan Siswa Baru di sekolah di Lombok Barat pada tahun 2011, JMS Lombok menemukan adanya masyarakat yang tidak bisa mendaftarkan anaknya karena tidak memiliki akte kelahiran, yang ternyata disebabkan mereka tidak memiliki buku nikah.

Beranjak dari situ JMS Lombok terdorong untuk melakukan penelahaan lebih mendalam mengenai masalah ini dan menemukan banyaknya penduduk yang tidak memiliki buku nikah. Pengaduan yang diterima pada tahun 2011 sebanyak 1.700 pasangan.

JMS Lombok menemukan masalahnya selain karena keterbatasan pelayanan masing-masing instansi, keterbatasan informasi, juga karena keterbatasan kelengkapan persyaratan dan kepastian biaya yang diperlukan untuk masing-masing langkah.

Pada 2012 JMS Lombok mendatangi Pemerintah Lombok Barat untuk mengemukakan masalah ini dan meminta bantuan Pemerintah untuk menganggulanginya. Pemerintah Lombok Barat pada 2012 memberikan komitmen untuk membantu, dan menyediakan dana pada tahun anggaran 2013 untuk proses pendampingan isbat nikah bagi masyarakat miskin.

Sejak itu JMS Lombok terus aktif dalam mendampingi masyarakat untuk pengurusan isbat nikah dan memelopori perbaikan proses untuk mengurangi timbulnya masalah ini dikemudian hari.

Proses Pendampingan Isbat Nikah

Proses pendampingan isbat nikah melibatkan banyak instansi, langkah dan persyaratan. Keterangan proses yang diikuti JMS Lombok secara umum dapat di lihat di sini.

Persyaratan serta peran masing-masing pemangku kepentingan secara terinci dapat dilihat di sini.

Kegiatan Pendampingan Isbat Nikah Oleh JMS Lombok

Kegiatan pendampingan isbat nikah oleh JMS Lombok yang sedang berjalan dapat di lihat di sini.